PENGALAMAN TES TPA DI PT DAHANA (PERSERO)

"Life is either daring adventure or nothing at all"
-Helen Keller-


Sebelum masuk ke cerita inti, saya tahu bahwa perjalanan karir saya masih stuck di sini-sini saja. Ibarat kata, pengen naik ke lantai 12 di suatu apartemen, saya bahkan baru berjalan mencari lift supaya bisa menuju ke lantai 12 tersebut. Orang-orang terdekat sudah merong-rong untuk segera bekerja. Bukan atas dasar mencari gaji, bukan masalah materi, melainkan agar ilmu, gelar, ijazah yang sudah saya peroleh selama kuliah tak lantas terbuang percuma dan satu lagi, agar saya bisa mandiri dan bisa mulai belajar mengatur keuangan. Kalau alasan kedua sih itu adalah kalimat yang tercetus dari diri sendiri. Jujur saja, meskipun saya juga mengisi kekosongan alias ke-menganggur-an saya dengan menjadi freelance writer, upah yang saya dapat belumlah cukup untuk membuat saya menabung lebih sering dengan jumlah yang konstan dan sedikit lebih besar dari biasanya.


Terhitung sejak wisuda Mei dan sumpah profesi pada November lalu, entah sudah berapa banyak lamaran yang saya apply. Entah itu lewat jobstreet hingga memberanikan diri ikut CPNS sama si abang (cuman kita menargetkan wilayah kerja yang berbeda namun dengan formasi sama yaitu dosen psikologi).

Terhitung sejak mengirimkan lamaran, waktu demi waktu berlalu, yang datang adalah penolakan dari stasiun TV ternama. Kemudian berlanjut dengan saya mengikuti seleksi CPNS Kemenag untuk formasi dosen psikologi di UIN Malang sini, pun nilai saya hanya kurang sedikit saja dan langsung gagal di TKD. Saya bahkan mencoba kembali ikut seleksi dosen non PNS di universitas itu lagi, namun ternyata, mungkin dugaan saya dan teman-teman lainnya yang ikut dalam seleksi itu benar bahwa menyertakan campur tangan "orang dalam" hingga akhirnya sekeras apapun saya berusaha, yang menang adalah yang jelas-jelas punya link. Kalaupun mengandalkan link sepenuhnya, saya bukannya angkuh tapi saya pun bisa dengan enteng memilih, mau masuk UB atau UIN, tapi untuk awal, hati nurani saya berbicara, untuk awal perjalanan, saya pun ingin belajar memulai semua dari nol, belajar berjuang sendiri agar tahu bagaimana rasanya orang lain berjuang di luar sana.

Setelah gagal untuk ke sekian kalinya, saya kembali mendapat panggilan atau lebih tepatnya orderan menerjemahkan artikel kemudian me-review dan menggubahnya menjadi sebuah artikel untuk klien. Alhamdulillah ternyata Allah juga tahu bagaimana cara memenuhi kebutuhan saya saat itu, saat saya benar-benar kehabisan uang buat beli sabun dan perlengkapan/kebutuhan pribadi wkwkw.. Okelah, dengan senang hati saya terima job sampingan tersebut dan bersyukur dengan upah yang saya dapat walau tak banyak.

Silih waktu berganti, saya shock ketika bertepatan dengan pengumuman kegagalan tes dosen itu, terbitlah sebuah email dari sebuah perusahaan. Sebuah perusahaan yang saya saja nyaris lupa kalau pernah mengirimkan lamaran ke sana. Dan, yang wonderful plus bikin saya girang sebab ini kali pertama saya mendapatkan respon baik dari lamaran yang saya tujukan khususnya menyasar ke perusahaan. Oh God, saya cukup senang sebenarnya meski awal-awalnya sempat dilema. Dilema karena jaraknya sangat jauh dari tempat tinggal. Yap, saya diundang untuk ikut seleksi tahap pertama ke Jakarta.

Saat itu, saya coba minta izin pada orangtua, tapi mama sempat menolak namun bapak sih ngijinin aja. Karena masih ada urusan mendesak yang harus saya urus, mau tidak mau, saya harus berangkat menggunakan pesawat. Tapi, dengan syarat, harus ada yang menemani saya dan itu mama. Okaylah, tapi tumben aja gitu saya jadi anak mami, biasanya juga boleh pergi sendirian. 

Saya jadi ingat kata-kata si abang. Dia bilang kalau seandainya saya memilih untuk tidak berangkat untuk ini saja, bisa-bisa perjalanan karir saya hanya di situ-situ saja dan tidak ada kemajuan. Sahabat saya juga mengatakan hal serupa, dicoba saja karena kita tidak tahu di mana dan dari mana rezeki itu berada/datang.

Berangkatlah saya ke Jakarta dengan destinasi Jakarta Selatan. Saya menginap di sebuah griya kecil Airy Room di daerah Asem Baris, Tebet. Dari situ, hanya butuh waktu 10 menit saja untuk sampai ke Menara Hijau. Yang tadinya sih tesnya di kantornya yang di MTH namun entah karena alasan apa, 13 Januari lalu, saya mendapatkan email revisi tempat seleksi dan itu di Menara Hijau.

Saat hari H, memang tesnya dibagi dua kloter. Kloter pertama pukul 08.00-13.00 dan saya mendapat giliran tes di kloter kedua yaitu pukul 13.00-17.00. Awalnya saya sempat ternganga kok lama sekali ya tesnya sampai sore. Setelah saya ikuti, oh rupanya ada menu lain yang disampaikan oleh pihak HRDnya sebelum tes inti berlangsung. Kita terlebih dahulu diberikan sambutan kemudian mendapat suguhan video singkat mengenai profil PT Dahana dan kemudian mulai masuk ke tes intinya.

Saat saya bilang ingin mengikuti seleksi di PT Dahana, orang-orang terdekat yang saya beritahu bahkan tidak tahu sama sekali perusahaan apa itu Dahana dan bergerak di sektor apa. Ya, memang sih, tapi meski begitu saya sering kok lihat logo Dahana nampang di beberapa spot tertentu. Cuma ketika menyimak profilnya dan browsing di internet, saya baru tahu kalau PT Dahana bergerak di sektor industri khususnya produksi bahan peledak, selain di pertambangan. Ya, begitulah kilasnya ya. Tapi, sebagai informasi saja, PT Dahana juga termasuk salah satu BUMN jadi pastilah perusahaan ini sangat bonafid ya kayak perusahaan BUMN lainnya.

Ketika tes berlangsung, saya sempat kaget karena soal-soalnya begitu banyak. Ada ratusan soal yang harus dikerjakan hingga pukul 17.00. Wow, emejing. Untuk sub-subnya saya pikir serupalah dengan tes TPA yang biasa kita hadapi kalau ikut tes di perusahaan atau di tempat lain, hanya saja yang membedakan tiap tempat/perusahaan/lembaga mungkin jumlah soal dan tingkat kesulitannya saja.

Kemarin, jujur, saya berusaha mengisi dan menjawab soal-soal yang saya ketahui pasti benar jawabannya. Namun, kalau ditanya berapa soal yang tidak saya jawab, banyak juga sih. Karena banyak juga soal yang menyertakan narasi panjang, dan beberapa saya lompati. Saya pun berpikir, kalau nilai tiap soal sama, saya tidak perlu membuang waktu untuk terpaku pada soal yang narasinya terlalu panjang dan saya tidak yakin itu benar. Tapi sebagiannya sih saya coba jawab meski belum tahu apakah itu benar atau salah.

Selain TPA, pihak HRD pun menjelaskan bahwa masih banyak rangkaian tes yang harus dihadapi. Setelah pengumuman TPA ini keluar, yang lolos ke babak selanjutnya akan mengikuti Psikotes (kalau FGD saya kurang tahu apakah tahun ini diadakan atau tidak). Setelah itu lanjut Personal Screening. Kemudian lanjut Interview User dan Interview HRD, Interview Direksi maybe. Nah, pihak HRD juga bilang, jangka waktu keseluruhan tes maksimal harus bisa selesai dilaksanakan hingga Maret 2018 ini sebab April mendatang akan mulai memberikan menu Management Traineenya untuk masa percobaan. Etts.... untuk masa percobaan, akan diuji selama tiga bulan, kalau tidak salah dengar berlokasi di Subang, kantor pusatnya. Kemudian kalau performa selama masa percobaan dinyatakan baik dan lulus, maka bisa lanjut ke masa OJT sekitar 9 bulan lalu kontrak kerja selama 2 tahun untuk awal.

Banyak orang terdekat saya yang berharap saya bisa lolos hingga tes tahap akhir. Saya pasrah dan hanya bisa berusaha juga berdoa. Kalau memang rezeki saya di Dahana, inshaallah, pasti saya akan bagikan lagi cerita-cerita selanjutnya di blog ini. Namun mengingat saat tes kemarin, khusus untuk formasi S2 Psikologi, jumlah peserta yang hadir amat sangat sedikit yaitu hanya sekitar lima orang yang hadir sementara lainnya absen. Padahal di daftar hadir waktu tanda tangan mungkin ada sekitar 8 atau 10 orang khusus Psikologi. Dan itu tandanya, persaingan sagat ketat, bukan?

Yah, selagi menunggu pengumuman, saya juga selalu meluangkan waktu untuk back to be a freelance heheh. Alhamdulillah beberapa waktu lalu saya juga sudah mengirim lagi satu tulisan untuk salah satu website klien dan diterima. Setelah ini, saya harus mencari ide tulisan baru lagi, supaya bisa kirim lagi, lagi dan terus. Yang saya senangi dan syukuri adalah, sewaktu mengirimkan tulisan di web tersebut, adminnya sungguh ramah dan menyatakan bahwa tulisan saya mumpuni, beliau pun meminta saya untuk terus menulis. Thanks coach admin.


No comments:

Post a Comment